Menggantungkan Jimat, Musyrikkah ?

Ibnu Abdillah Al-KatibiyGubuk Rehat, Grobogan 21 Ramadhan 1438 H / 16 Juni 2017 M
Jimat dalam bahasa Arab adalah Tamimah. Arti secara etimologinya adalah menjadi sempurna, kalau kita katakan Tamma asy-Syaiu maka artinya bagian-bagian sesuatu itu menjadi sempurna. Jimat ini berupa sesuatu perlindungan yang digantungkan kepada manusia. Seolah jimat ini menjadi penyempurna proses kesembuhan yang dituntut. (lihat kitab Mu’jam Miqyas al-Lughah; Ibnu Faris 1/339. Cetakan Maktabah al-Ilmiyyah)

Jimat atau tamimah ini secara istilah mempunyai dua makna : 

Pertama : manik-manik yang konon kaum Arab menggantungkannya kepada anak-anak mereka untuk melindungi mereka dari penyakit ‘ain menurut asumsi mereka, lalu datanglah Islam membatalkan keyakinan semacam itu. (lihat kitab an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar : 1/197. Cetakan Maktabah al-Ilmiyyah)

Kedua : lembaran yang ditulisi ayat al-Quran, dan dikalungkan di leher misalnya, untuk mengalap berkah. (Lihat kitab Hasyiah al-Jamal ‘ala syarh al-Manhaj; 1/76. Cetakan Dar al-Fikr) 

Di antara pokok akidah umat islam adalah tidak ada pengaruh independen bagi setiap makhluk apapun. Barangsiapa yang meyakini adanya pengaruh independen bagi selain Allah, maka ia telah jatuh pada kesyirikan. Apabila meyakini bahwa jimat tidak membawa pengaruh secara independen, maka ada dua keadaan; adakalanya berisi ayat al-Quran dan adakalanya bukan dari ayat al-Quran. Jimat yang bukan dari ayat al-Quran, adakalanya berisi dari dzikir, wirid atau doa yang baik, maka ini hukumnya boleh. Apabila berisi selain itu misalnya dari tholsamat atau kalimat yang tidak bisa dipahami secara baik bahasa Arab atau bahasa lainnya, maka hukumnya tidak boleh.

Adapun jimat yang terdiri dari ayat al-Quran atau dzikir, wirid dan ucapan yang baik, maka mayoritas ulama ahli fiqih dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan satu riwayat dari imam Ahmad menghukumi boleh menjadikan gantungan (di leher atau sesuatu lainnya), mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala :  

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“ Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-Isra’:82)

Imam al-Qurthubi mengomentari ayat tersebut :

اختلف العلماء في كونه شفاء على قولين: أحدهما: أنه شفاء للقلوب بزوال الجهل عنها وإزالة الريب، ولكشف غطاء القلب من مرض الجهل لفهم المعجزات والأمور الدالة على الله تعالى. الثاني: شفاء من الأمراض الظاهرة بالرُّقى والتعوذ ونحوه

“Para ulama berbeda pendapat tentang al-Quran sebagai obat, menjadi duap pendapat; pertama al-Qurana dalah obat bagi hati dengan hilangnya kebodohan dan keraguan, terbukanya penutup hati dari penyakit bodoh, sebab kepahaman mu’jizat dan perkara-perkara yang menunjukkan atas Allah Ta’ala. Kedua al-Quran adalah obat dari segala penyakit dhahir dengan cara ruqyah, ta’awwudz (dijadikan suatu perlindungan) dan semisalnya “. (lihat kitab al-Jami’ li ahkam al-Quran : 10/316. Cetakan Dar al-Kutub al-Mishriyyah)

Sedangkan tamimah atau jimat termasuk bentuk ta’awwudz yang ditulis, maka hukumnya boleh menggunakannya atau menggantungkannya dengan niat keberkahan, karena Allah Ta’ala berfirman :  

هَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“ Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kalian dirahmati.” (QS. Al-‘An’am : 155)

Beberapa ulama wahabi di antaranya Ibnu Baz mengharamkannya secara muthlaq baik digantungkan atau tidak meskipun berisi ayat al-Quran. Ia berdalil dengan beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya :

إن الرقى والتمائم والتولة شرك

“ Sesungguhnya ruqyah, jimat dan tiwalah adalah syirik “

Jika jimat diharamkan berdasarkan hadits ini, berarti ruqyah juga diharamkan secara muthlaq ? kenapa banyak ulama wahabi sekarang yang juga melakukan praktek ruqyah ? Ibnu Baz berdalih lagi bahwa ruqyah itu ada pengecualian, artinya ada ruqyah yang dilarang ada ruqyah yang diharamkan. 

Benarkan hujjah Ibn Baz itu ? benarkah tamimah atau jimat tidak ada pengecualiannya dan muthlaq keharamannya ? kita buktikan…

Diriwayatkan dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila dari isa saudaranya, ia berkata;

دخلت على عبد الله بن عكيم أبي معبد الجهني أعوده وبه حمرة فقلنا: 

ألا تعلق شيئًا؟ قال: الموت أقرب من ذلك، قال النبي صلى الله عليه 

وآله وسلم: مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“ Aku datang kepada Abdullah bin Akim Abi Ma’bad al-Jahni menjenguknya yangs sedang sakit panas, maka kami katakan padanya, “ Tidakkah kamu menggantungkan sesuatu saja ? “, ia menjawab, “ kematian lebih dekat dari itu “. Maka Nabi shallallahu ‘alaihiw wa sallam bersabda, “ Barangsiapa yang menggantungkan sesuatu, maka diwakilkan padanya “. (HR. Ahmad, al-Hakim danTurmudzi)

Imam al-Qurthubi mengomentari maksuda perkataan Nabi tersebut :

 فمن علَّق القرآن ينبغي أن يتولاه الله ولا يَكِله إلى غيره؛ لأنه تعالى هو المرغوب إليه والمتوكل عليه في الاستشفاء بالقرآن

“ Maka siapa yang menggantungkan al-Quran sebaiknya ia menjadikan Allah sebagian wakilnya dan tidak mewakilkan kepada selain-Nya, karena Allah Ta’ala lah yang menjadi harapan dan tempat sandaran di dalam berobat dengan al-Quran “. (lihat al-Jami’ liahkam al-Quran, al-Qurthubi : 10/320) 

Artinya beliau membolehkan menggantungkan jimat yang terdiri dari ayat al-Quran asalkan tetap bersandar kepada Allah.

Diriwayatkan juga dari ‘amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِذَا فَزِعَ أَحَدُكُمْ فِي النَّوْمِ فَلْيَقُلْ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ 

وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ؛ فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ

“ Jika seorang diantara kalian merasa takut di dalam tidurnya, maka ucapkanlah :

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ

Maka gangguan-gangguan setan tidak akan membahayakannya “. Ia berkata; “ Dahulu Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘anhuma mengajarkannya kepada anaknya yang sudah baligh dan menulisnya untuk yang belum baligh di sebuah lembaran lalu digantungkan di lehernya “. (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Dalam kitab hadits Mushannaf Ibnu Abi Syaibah :

أن سعيد بن المسيب سئل عن التعويذ فقال: “لا بأس إذا كان في أديم”، 

وعن عطاء قال: “لا بأس أن يعلق القرآن”، وكان مجاهد يكتب للناس التعويذ فيعلقه عليهم، وعن الضحاك أنه لم يكن يرى بأسًا أن يعلق الرجل الشيء من كتاب الله إذا وضعه عند الغسل وعند الغائط، ورخَّص أبو جعفر محمد بن علي في التعويذ بأن يُعلق على الصبيان، وكان ابن سيرين لا يرى بأسًا بالشيء من القرآن.

“ Bahwasanya Said bin Musayyib ditanya tentang ta’widz (sesuati yang dijadikan perlindungan), maka beliau menjawab; “ tidak mengapa jika (ditulis) pada kulit “. Dari Atha’ ia berkata, “ tidak mengapa menggantunkan (jimat) yang terdiri dari ayat al-Quran “. Dahulu Mujahid menulis ta’widz untuk orang-orang lalu menjadikannya gantungan leher pada mereka “. Dari Ad-Dhahhak ia berpendapat,” bahwasanya tidaklah mengapa sesorang membuat jimat gantungan dari kitab Allah apabila diletakkan ketika hendak mandi atau buang air besar “. Abu Jakfar Muhammad bin Ali membolehkan jimat gantungan pada anak kecil. Ibnu Sirin juga bependapat tidaklah mengapa membuat jimat dengan al-Quran “. (lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah; 5/43-44)

Dari riwayat-riwayat hadits ini sangat jelas, membolehkan menggantungkan jimat yang terdiri dari ayat al-Quran atau dzikir ataupun doa yang baik. Dan menjadi pengecualian dari jimat. Artinya ada jimat yang dilarang dan ada jimat yang diperbolehkan bahkan digantungkan pada leher hukumnya juga boleh. 

Mayoritas ulama pun memperbolehkannya :

Dalam kitab Kifayah ath-Thalib ar-Rabbani disebutkan :

ولا بأس بالمُعاذة) وهي التمائم -والتمائم الحروز- التي (تعلق) في العنق (وفيها القرآن) وسواء في ذلك المريض، والصحيح، والجنب، والحائض، والنفساء، والبهائم بعد جعلها فيما يكنها]. اهـ، ففُهم من ذلك أن ما كان من القرآن جائز إذا جُعل في شيء يحفظه.

“ Tidaklah mengapa dengan jimat yang digantungkan di leher dan di dalamnya berisi ayat al-Quran, baik diperuntukkan untuk yang sakit, sehat, junub, haid, nifas ataupun binatang setelah dibungkus sebagai pengamannya “. (lihat Kifayah ath-Tahlib ar-Rabbani ‘ala Risalah Ibn Abi Zaid al-Qairawani : 2/492. Cetakan Dar al-Fikr)

Bisa kita pahami bahwa jimat yang berisi ayat al-Quran hukumnya boleh jika dibungkus dengan sesuatu yang menjaganya. 

Imam Malik mengatakan :

لا بأس بتعليق الكتب التي فيها أسماء الله عز وجل على أعناق المرضى على وجه التبرك

“ Tidaklah mengapa menggantungkan tulisan yang berisi asma Allah Ta’ala di leher-leher orang yang sakit atas dasar tabarruk (ngalap berkah) “. (lihat al-Jami’ liahkam al-Quran, al-Qurthubi : 10/319)

Imam an-Nawawi dalam kitab Majmu’nya menyebutkan hadits :

من علَّق تميمة فلا أتم الله له، ومن علَّق ودعة فلا ودع الله له

“ Barangsiapa yang mengenakan jimat maka Allah ta’ala tidak akan menyempurnakan hajatnya, dan barangsiapa yang mengenakan wada’ah (jimat batu pantai) maka Allah ta’ala tidak akan memberikan ketenangan kepadanya.”

Lalu menukil komentar imam al-Baihaqi sebagai berikut :

ان النهي راجع إلى معنى ما قال أبو عبيد- أي: ما كان بغير العربية بما لا يدري ما هو- ثم قال -أي البيهقي-: وقد يحتمل أن يكون ذلك وما أشبهه من النهي والكراهة فيمن يعلقها وهو يرى تـمام العافية وزوال العلة بـها على ما كانت عليه الجاهلية، أما من يعلقها متبركًا بذكر الله تعالى فيها وهو يعلم أن لا كاشف له إلا الله ولا دافع عنه سواه، فلا بأس بـها إن شاء الله تعالى

“ Sesungguhnya dalam hadits itu yang dilarang adalah kembali pada apa yang dikatakan oleh Abu Ubaid, “ yang dilarang adalah yang selain bahasa Arab yang tidak dapat dipahami maknanya “, kemudian imam Baihaqi mengatakan, “ Terkadang dimungkinkan sifat yang terlarang dan makruh adalah bagi orang yang menggantungkannya dan berpandangan akan mendapat kesempurnaan afiat dan hilangnya penyakit dengan jimat tersebut yang juga diasumsikan konon pada masa jahiliyyah. Adapun orang yang menggantungkannya dengan niat ngalap berkah dengan dzikir Allah Ta’ala di dalamnya dan dia mengetahui bahwa tidak ada yang mampu menyingkap penyakit kecuali Allah, dan tidak ada yang dapat menolak bahaya kecuali Allah, maka tidaklah mengapa yang demikian itu insya Allah “. (al-Majmu’, imam Nawawi : 9/66. Cetakan Dar al-Fikr) 

Imam Nawawi pun tidak mengomentari hujjah imam Baihaqi tersebut tanda, tidak adanya penolakan dari imam Nawawi akan hal ini dan setuju dengan komentar imam Baihaqi tersebut. 

Al-Hafidz ibnu Hajar mengatakan dalam hal ini setelah menyebutkan hadits-hadits tentang larangan menggantungkan jimat :

هذا كله في تعليق التمائم وغيرها مما ليس فيه قرآن ونحوه، فأما ما فيه ذكر الله فلا نـهي فيه؛ فإنه إنـما يجعل للتبرك به والتعوذ بأسـمائه وذكره

“ Semua ini dalam hal menggantungkan jimat dan selainnya yang tidak berisi ayat al-Quran dan semisalnya. Adapun yang berisi dzikir kepada Allah, maka tidaklah terlarang. Karena sesungguhnya hal itu hanyalah dijadikan untuk mengambil berkah saja dan berta’awwudz dengan asama Allah dan dzikir kepada-Nya “. (lihat Fath al-Bari syarh Sahih al-Bukhari : 6/142. Cetakan Dar al-Ma’rifah) 

Al-Qadhi Abu Ya’la ulama dari kalangan Hanabilah mengatakan :

يجوز حمل الأخبار- أي الـمانعة- على اختلاف حالين، فنهى إذا كان يعتقد أنـها النافعة له والدافعة عنه، وهذا لا يجوز؛ لأن النافع هو الله. والموضع الذي أجازه إذا اعتقد أن الله هو النافع والدافع. ولعل هذا خرج على عادة الجاهلية، كما تعتقد أن الدهر يغيرهم فكانوا يسبونه

“ Boleh hukumnya membawa jimat, ini ada dua keadaan; pertama dilarang jika meyakini jimat itu yang membawa manfaat dan menolak bahaya, ini tidak boleh, karena yang memberi manfaat adalah Allah. Dan tempat diperbolehkannya jimat, adalah jika meyakini bahwa Allah lah yang memberi manfaat dan menolak bahaya. Hal ini keluar dari kebiasaan jahiliyyah, sebagaimana kaum jahiliyyah meyakini bahwa tahun bisa merubah nasib baik mereka sehingga mereka mencacinya “. (lihat Kasyaf al-Qina’ ‘an Matn al-Iqna’, al-Bahuti : 2/77. Cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah )

Wahai saudaraku, sudah jelas dan terang hujjah dalam hal ini. Bahwa mayoritas ulama sepakat membolehkan jimat yang ditulis dengan ayat al-Quran atau dzikir, wirid dan doa yang baik yang dipahami maknanya, digantungkan di leher ataupun tidak. Asalkan berkeyakinan bahwa Allah lah yang memberi manfaat dan menolak bahaya. Jimat yang berisi ayat al-Quran, dzikir, wirid dan doa hanyalah sebagai wasilah mengalap berkah dari Allah Ta’ala sebab itu semua. 

Jika mereka kaum primitif, masih saja menghukumi syirik dan pelakuknya musyrik, maka sungguh telah bathar ‘anil haq (menentang kebenaran) dan fanatik buta terhadap pemahaman yang dianutnya. Jika kalian mengikuti pemahaman Ibn Baz dan ulama yang sealiran dengannya dalm hal ini, silahkan saja kamipun tidak melarangnya, akan tetapi kami juga memiliki hujjah-hujjah yang kuat yang menjadi sandaran kami dalam hal ini. Tidak ada haq kalian melarang-larang kami apalagi sampai memvonis kami pelaku syirik. Semoga bermanfaat.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*